BerandaDaerahDua Bulan Surat Tak Digubris, FORWAKA Kecewa: “Bupati Asahan Diduga Alergi Wartawan”

Dua Bulan Surat Tak Digubris, FORWAKA Kecewa: “Bupati Asahan Diduga Alergi Wartawan”

Asahan, AuraIndonesia | Dua bulan sudah Forum Wartawan Kejaksaan (FORWAKA) Kabupaten Asahan menunggu jawaban dari surat audiensi yang mereka kirimkan. Namun, hingga awal November 2025 ini, tak ada satu pun tanggapan dari pihak Pemerintah Kabupaten Asahan.

Surat yang seharusnya menjadi jembatan komunikasi antara wartawan dan pemerintah daerah itu justru menguap begitu saja. Padahal, surat audiensi tersebut telah dua kali diserahkan langsung ke Bagian Protokol Sekretariat Daerah Kabupaten (Setdakab) Asahan.

Kekecewaan pun tak bisa dibendung. Di kantin Dinas Kominfo Asahan, Senin (3/11/2025), suasana terasa tegang saat Ketua FORWAKA Asahan, Dolly Dien Nurul Amin Simbolon, menyuarakan unek-uneknya.

“Kami sangat kecewa dengan sikap Bupati Asahan yang terkesan alergi terhadap wartawan. Padahal, FORWAKA ini adalah mitra resmi Pemkab Asahan,” ujar Dolly dengan nada kesal.

Harapan Palsu dari Pejabat Pemkab

Dolly menuturkan, pihaknya sudah beberapa kali menanyakan tindak lanjut surat tersebut kepada Kepala Bagian Protokol. Namun, yang diterima justru janji yang tak pernah ditepati.

“Bosan kita mendengar janji-janji mereka,” katanya lirih, menahan emosi.

Yang lebih ironis, surat penting itu bahkan sempat disebut hilang oleh pejabat Pemkab. Alasan yang dianggap tak masuk akal bagi para jurnalis yang terbiasa dengan administrasi tertib dan pencatatan resmi.

Jawaban Kadis Kominfo yang Aneh dan Emosional

Saat dikonfirmasi terpisah, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Kadis Kominfo) Kabupaten Asahan, Jutawan Sinaga, S.STP, MAP, memberikan jawaban yang justru menimbulkan tanda tanya.

Lewat sambungan seluler, Jutawan hanya menanggapi ringan:

“Semangat terus kawan-kawan FORWAKA Asahan.”

Namun ketika ditanya lebih lanjut, Jutawan menyebut bahwa surat dari FORWAKA tidak tercatat di buku ekspedisi Bagian Protokol.

“Sudah saya tanya Kabag Protokol, tak ada surat itu di buku ekspedisi. Pastikan dulu, ke mana dan kepada siapa surat itu diantar,” ujarnya.

BACA JUGA  Nico Saragih Jurnalis Media Online Medan Ditemukan Tewas, Diduga Korban Pembunuhan

Nada bicaranya pun sempat meninggi.

“Yang mana-mananya kamu ini? Siapa yang terima kemarin? Pastikan dulu biar gampang melacaknya. Sikit-sikit itulah kamu tulis,” katanya dengan emosi.

Dua Kali Diserahkan, Tetap Dianggap Tak Ada

Fakta di lapangan justru menunjukkan sebaliknya. Menurut FORWAKA, surat pertama telah diserahkan langsung oleh anggota FORWAKA kepada Bagian Protokol, sedangkan surat kedua diserahkan oleh Ketua FORWAKA sendiri kepada Kabag Protokol.

“Ya, surat audiensinya sudah saya serahkan sendiri ke Kabag Protokol,” tegas Dolly.

Namun hingga kini, surat tersebut masih “menghilang” tanpa jejak.

Respons Santai di Tengah Kegelisahan

Sementara itu, saat wartawan FORWAKA mencoba mengonfirmasi Kepala Bagian Protokol Setdakab Asahan, Darwinsyah Lubis, S.STP, melalui pesan WhatsApp, tanggapannya justru terkesan tak serius.

“Bentar bang, lagi coffee morning,” balasnya singkat.

Jawaban itu membuat suasana semakin muram bagi para jurnalis yang berharap adanya ruang dialog dengan kepala daerah.

Di Antara Harapan dan Kekecewaan

Kasus ini menjadi potret kecil betapa komunikasi antara pemerintah dan insan pers di daerah masih sering tersumbat oleh birokrasi yang berbelit dan minim empati.

FORWAKA Asahan yang berharap bisa berdiskusi langsung dengan Bupati Taufik Zainal Abidin Siregar justru dihadapkan pada dinding dingin ketidakpastian. Dua bulan menunggu tanpa kepastian bukan sekadar soal surat, tapi soal penghargaan terhadap fungsi pers sebagai mitra pembangunan dan pengawal transparansi publik.

Di tengah situasi itu, keheningan dari pihak Pemkab Asahan terasa seperti pesan yang tak tersampaikan — bukan karena kertasnya hilang, tetapi karena semangat keterbukaan belum benar-benar hidup di sana.

Apakah Bupati Asahan benar-benar “alergi” terhadap wartawan? Atau hanya ada miskomunikasi di dalam sistem birokrasi? Waktu yang akan menjawabnya. Namun bagi FORWAKA Asahan, perjuangan untuk mendapat ruang dialog dengan pemerintah belum akan berhenti.

BACA JUGA  Homeyo Papua Aman: Koops Habema Gelar Papua Pintar di Sekolah Lapangan Pogapa

Penulis: [Tiara Aritonang]
Editor: [Vindo R]

Google News

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini