Semarang, AuraIndonesia | Ruang sidang Universitas Negeri Semarang (Unnes) mendadak hening. Di layar virtual, wajah Prof. Junita Batubara, MSn, PhD, memancarkan ketegangan yang bercampur dengan rasa bangga yang membuncah. Dosen sekaligus Guru Besar dari Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas HKBP Nommensen (UHN) Medan ini baru saja mengukir sejarah baru bagi kampusnya.
Prof. Junita Batubara, MSn, PhD, mencatatkan prestasi luar biasa karena dipercaya menjadi tim penguji eksternal dalam ujian doktor (S3) Pendidikan Seni di Pulau Jawa. Ia menguji langsung promovendus atas nama Dr. Emah Winangsit, SPd, MA. Baginya, momen ini bukan sekadar tugas akademis biasa, melainkan sebuah pembuktian besar.
“Saya sangat bangga dan ini saya persembahkan untuk Universitas HKBP Nommensen Medan bisa punya kiprah sampai ke Pulau Jawa,” ucap Prof. Junita dengan nada suara yang bergetar penuh keharuan namun tetap rendah hati.
Dosen UHN Medan Punya Kompetensi dan Mampu Bersaing secara Nasional
Prof. Junita Batubara tidak sendirian dalam menguji usulan ilmiah tersebut. Lulusan S3 University of Malaya Malaysia yang juga aktif mengajar di program S2 Universitas Sumatera Utara (USU) ini, bersanding dengan para akademisi senior lainnya.
Tim penguji yang hadir dalam sidang tersebut adalah Dr. Eko Raharjo M.Hum, Prof. Dr. Syakir MSn, Dr. Eko Sugiarto SPd MPd, Prof. Dr. Syaharul Syah Sinaga M.Hum, Dr. Udi Utomo M.Si, dan Prof. Dr. Sunarto M.Hum. Kehadiran Prof. Junita di antara para pakar dari Pulau Jawa ini menjadi bukti sahih kualitas akademisi asal Sumatra Utara.
“Kita harus membuktikan bahwa banyak dosen-dosen UHN Medan yang punya kemampuan dan kompetensi yang bagus. Kita harus diberdayakan untuk membangun bangsa ini melalui kolaborasi lintas kampus,” tegas Prof. Junita penuh semangat.
Nilai Budaya Banyumas yang Mulai Terkikis oleh Budaya Populer Global
Keharuan sidang akademik ini semakin terasa saat Dr. Emah Winangsit memaparkan latar belakang penelitiannya. Emah mengungkapkan keprihatinan mendalam mengenai kondisi generasi muda saat ini yang mulai melupakan akar budayanya sendiri.
Menurut data yang dipaparkan Emah, penggunaan lagu anak berbasis budaya Banyumas kini semakin berkurang drastis. Ruang bagi anak-anak untuk mengenal nilai-nilai leluhur terjepit oleh dominasi budaya populer global yang masuk tanpa filter lewat gawai dan media sosial.
Kondisi kritis inilah yang mendorong lahirnya penelitian mendalam terhadap album Tembang Bocah Banyumasan karya Fadjar Sopsan. Karya musik ini dinilai merefleksikan identitas asli Banyumas dan berpotensi besar menjadi media pembelajaran seni dalam pendidikan guru.
Metode Penelitian Ilmiah Menggunakan Konsep Alan P. Merriam
Emah Winangsit menjelaskan bahwa riset ini bertujuan membedah struktur musik, refleksi nilai budaya, dan bagaimana cara mengintegrasikan album tersebut ke dalam kurikulum pendidikan guru. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif dengan desain studi kasus.
Agar analisisnya akurat, Emah menggunakan kerangka teori etnomusikologi dari Alan P. Merriam yang berfokus pada tiga konsep utama, yaitu sound (suara), concept (konsep), dan behavior (perilaku).
Sumber data riset ini sangat padat dan faktual, yang meliputi:
- Analisis musikal terhadap 8 lagu anak di dalam album.
- Wawancara mendalam dengan 15 informan yang terdiri dari seniman, akademisi, guru, budayawan, dan masyarakat asli Banyumas.
- Observasi langsung pada 4 kelas mahasiswa Program Studi PGMI UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto.
Seluruh data dikumpulkan lewat observasi, wawancara, dokumentasi, serta analisis musikal. Keabsahan datanya pun dijamin sangat ketat melalui metode interaktif serta model triangulasi sumber dan triangulasi metode untuk mencegah bias.
Hasil Penelitian Sukses Mendukung Gerakan Dekolonisasi Pendidikan
Di akhir presentasi yang emosional tersebut, Emah membagikan hasil temuan yang melegakan para penguji. Struktur musik pada album Tembang Bocah Banyumasan terbukti sederhana, berulang (repetitif), dan mengajak anak-anak aktif terlibat (partisipatoris).
Nilai-nilai luhur masyarakat Banyumas tercermin kuat di dalamnya, mulai dari sifat cablaka (blak-blakan/jujur), egaliter (kesetaraan), gotong royong, hingga unsur humor yang sehat. Proses penerapan untuk pendidikan guru dilakukan lewat model khusus yang dinamakan Identify-Delink-Relink through Performance.
Temuan ilmiah ini berhasil membuktikan praktik nyata dari culturally responsive teaching (pembelajaran tanggap budaya). Melalui hasil kelulusan doktor ini, riset Emah tidak hanya mendukung dekolonisasi pendidikan nasional, tetapi juga berkontribusi nyata pada pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan dunia, khususnya SDG nomor 4 tentang pendidikan berkualitas dan SDG nomor 11 tentang kota dan komunitas yang berkelanjutan. (JR)




