Medan, AuraIndonesia | Proyek Jalan rusak dan jembatan putus bukan sekadar urusan aspal dan beton. Bagi warga di pedalaman, jalan yang hancur adalah alasan mengapa anak-anak terlambat ke sekolah, mengapa hasil panen membusuk di parit, dan mengapa ibu hamil harus bertaruh nyawa di atas tandu. Hari ini, gumpalan kecemasan itu mulai terkikis berganti harapan yang nyata.
Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Pemprov Sumut) bergerak cepat menjawab tangisan itu. Pemprov Sumut resmi mengebut pengerjaan proyek pembangunan infrastruktur jalan dan jembatan di sepanjang tahun 2026 ini.
Dinas Bina Marga, Bina Konstruksi dan Cipta Karya (BMBKCK) Sumut mencatat, hingga tanggal 10 Juli 2026, sudah ada 41 kegiatan fisik yang berjalan. Angka ini mencakup 7 Program Proyek Strategis Daerah (PSD) dan sisanya adalah Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) yang menyasar langsung kebutuhan urat nadi perekonomian warga.
Membangun Kembali Asa yang Sempat Terputus
Progres proyek fisik ini bukan lagi sekadar rencana di atas kertas. Alat-alat berat kini sudah bekerja di puluhan daerah. Kucuran keringat para pekerja di lapangan menjadi saksi bahwa perbaikan sedang mengalir ke wilayah Anda.
Daerah-daerah yang kini sedang disentuh pembangunan tersebut antara lain:
- Wilayah Kepulauan: Gunungsitoli, Nias Barat, dan Nias Utara.
- Wilayah Dataran Tinggi & Pantai Barat: Karo, Pakpak Bharat, Simalungun, Humbang Hasundutan, Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah, Sibolga, Mandailing Natal, dan Toba.
- Wilayah Pantai Timur & Dataran Rendah: Asahan, Batubara, Labuhanbatu, Serdangbedagai, Tebingtinggi, Padang Lawas Utara, Medan, serta Deliserdang.
Bentuk pekerjaannya pun sangat mendasar dan dibutuhkan warga sehari-hari. Mulai dari peningkatan struktur jalan, rehabilitasi jalan yang bolong-bolong, pemeliharaan berkala, pembukaan jalan baru, hingga pembangunan jembatan penyeberangan yang kokoh.
Senyum Hangat dari Korban Bencana Alam
Haru paling mendalam datang dari daerah-daerah yang sempat dihantam bencana. Pemprov Sumut tidak tinggal diam melihat warga terisolasi akibat alam yang mengamuk.
Saat ini, sudah ada 14 kegiatan fisik yang masuk tahap penandatanganan kontrak kerja. Salah satu yang paling ditunggu adalah proyek tanggap bencana untuk membangun jembatan baru di ruas Simpangtiga Namu Unggas – Tangkahan di Kabupaten Langkat. Jembatan baru ini akan menyambung kembali silaturahmi dan ekonomi warga yang sempat lumpuh.
Tak hanya itu, sebanyak 13 kegiatan kini sedang dalam proses tender (lelang). Di dalamnya termasuk penanganan pascabencana untuk membangun benteng penahan tanah (Turap/Talud/Bronjong) di ruas Kuala Sp. Marike, Kabupaten Langkat, serta proyek yang dibiayai Dana Transfer ke Daerah (TKD).
“Kami terus berupaya memastikan alur pelaksanaan pembangunan, dari mulai proses tender hingga kontrak berjalan efektif dan terukur, termasuk untuk pembangunan penanganan pasca bencana,” ujar Kadis BMBKCK Sumut, Chandra Dalimunthe, pada Selasa (14/7/2026).
Menatap Masa Depan Sumut yang Lebih Cerah
Pemprov Sumut juga terus merapikan administrasi agar proyek sisa tidak terhambat. Saat ini, ada 5 proyek strategis di Nias Barat dan Nias Selatan yang sedang masuk tahap pengumuman Rencana Umum Pengadaan (RUP).
Ada juga dua proyek penting yang sedang dipersiapkan matang di wilayah lain. Pertama, pengolahan air limbah (SPALD Terpusat) di Deliserdang. Kedua, peningkatan jalan ruas Sihaporas menuju Paringgonan di Padang Lawas Utara menggunakan dana bagi hasil sawit.
Terakhir, ada 21 kegiatan penanganan pascabencana yang sedang difokuskan pada tahap perencanaan. Proyek ini akan memperbaiki pangkal jembatan (oprit), benteng tanah, dan penggantian jembatan rusak di daerah Langkat, Pakpak Bharat, Humbang Hasundutan, Tapanuli Utara, Sibolga, Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, hingga Mandailing Natal.
Target besar ini terus didorong demi kenyamanan masyarakat. Jalan yang mulus bukan lagi sekadar impian, melainkan hak yang sedang diwujudkan nyata di depan mata seluruh warga Sumatera Utara. (RL)




