Jayawijaya, AuraIndonesia | Di tengah sejuknya udara Pegunungan Jayawijaya, gema semangat Sumpah Pemuda kembali terasa hangat. Bukan dari ruang rapat atau podium upacara, melainkan dari tanah Distrik Walesi, tempat di mana Satgas Yonif 521/DY menyalakan kembali bara persatuan lewat hal sederhana—sebuah lapangan voli dan sepasang net beserta bola.
Setiap Tanggal 28 Oktober memperingati Hari Sumpah Pemuda menjadi hari yang penuh makna. Di antara senyum anak-anak dan pemuda setempat, para prajurit Macan Kumbang—sebutan gagah bagi Yonif 521/DY—membagikan peralatan olahraga kepada warga Walesi. Mereka tak hanya membawa bola dan net, tetapi juga menghadirkan semangat baru: semangat untuk bersatu dan bergerak maju.
Olahraga sebagai Wujud Persatuan
Bagi masyarakat di pedalaman Papua Pegunungan, fasilitas olahraga adalah kemewahan yang jarang mereka miliki. Lapangan tanah, sering kali becek oleh hujan pegunungan, menjadi tempat bermain sekaligus bersosialisasi. Melihat kondisi itu, Komandan Satgas Yonif 521/DY, Letkol Inf Rahadyan Surya Murdata, S.E., M.I.P., menginisiasi kegiatan berbagi sarana olahraga melalui program Binter terbatas.
“Kami ingin masyarakat di sini tidak hanya sehat secara fisik, tapi juga merasakan semangat persatuan yang pernah dikobarkan para pemuda tahun 1928,” ujarnya dengan mata berbinar.

Melalui pembangunan lapangan voli sederhana, para prajurit membantu warga membentuk ruang kebersamaan baru. Setiap kali bola mengudara di atas net, semangat kerja sama dan sportivitas ikut tumbuh di antara mereka—seperti pesan abadi dalam tiga ikrar Sumpah Pemuda: satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa, Indonesia.
Menghidupkan Semangat dari Pegunungan
Suara tawa anak-anak bercampur dengan teriakan semangat para pemain muda. Di tengah kabut tipis yang menyelimuti perbukitan Walesi, bola voli itu melambung tinggi—seolah menjadi simbol cita-cita yang ingin mereka raih.
Tak hanya soal olahraga. Bagi prajurit dan masyarakat, lapangan ini adalah simbol kebersamaan dan harapan. Ia menjadi ruang di mana perbedaan disatukan, di mana setiap serangan dan pertahanan di lapangan mengajarkan arti persaudaraan yang sesungguhnya.
“Pemuda Pemudi Bergerak, Indonesia Maju,” begitu teriakan mereka menggema, menyatukan semangat antara prajurit dan warga lokal.
Warisan Semangat yang Tak Pernah Padam
Sumpah Pemuda 1928 menjadi tonggak lahirnya kesadaran nasional. Kini, hampir seabad kemudian, makna itu dihidupkan kembali di pelosok Papua. Melalui tindakan nyata, TNI membuktikan bahwa semangat persatuan bukan sekadar kata, tetapi perbuatan yang menembus batas wilayah dan perbedaan.
Di tanah Walesi, sejarah itu berulang dalam bentuk sederhana namun bermakna: bola yang dipukul bersama, net yang menandai batas tapi juga menghubungkan, dan tawa yang menyatukan hati.
Sumpah Pemuda bukan hanya peringatan, melainkan panggilan—untuk terus menjaga keutuhan bangsa dan menyalakan optimisme generasi muda.
Dan dari Pegunungan Jayawijaya, semangat itu kembali berkibar.
Dibawa oleh para Prajurit Macan Kumbang, untuk Indonesia yang semakin kuat, sehat, dan bersatu. (tim)




