Medan, AuraIndonesia | Tuak aren menjadi kata kunci kehangatan di Aren Garden Café, sebuah tempat santai yang terletak di Jalan Bunga Rampai IV, tak jauh dari Kebun Binatang Kota Medan. Kafe sederhana ini memanjakan pengunjung dengan suasana kesejukan yang alami. Pohon-pohon aren yang menjulang di sekeliling area membuat tempat ini terasa seperti taman kecil yang hidup dan menenangkan.
Aren Garden Café dan Tradisi Batak yang Tetap Hidup
Tuak aren bukan sekadar minuman. Dalam budaya Batak, tuak adalah simbol kebesaran, pernah menjadi minuman khusus para raja dan tokoh adat. Pemilik Aren Garden Café, bermarga Nababan, menjaga tradisi itu dengan menanam sendiri pohon aren di sekitar kafe.
“Tuak kita ini asli dari pohonnya, tidak ada campuran apa pun,” ujarnya pada Jumat, 28 November 2025. Ia menyampaikan dengan bangga bahwa tuak yang disajikan langsung diambil dari nira segar pohon aren.
Khasiat Alami Tuak Aren yang Menghangatkan Tubuh
Nababan bercerita bahwa tuak aren memiliki keistimewaan tersendiri. “Kalau kita minum tuak aren dalam porsi sehat, maksimal dua sampai tiga gelas, tubuh yang capek akan terasa lebih segar keesokan harinya.”

Kata-kata itu bukan sekadar promosi, tetapi pengalaman masyarakat Batak yang telah turun-temurun merasakan manfaat tuak aren sebagai minuman penghangat sekaligus penyegar tubuh.
Suara Pengunjung: Nikmat, Tapi Harus Bijak
Seorang pengunjung, Raffles Sianturi, memberikan pandangannya dengan jujur. “Tuak itu sehat, tapi bisa juga memabukkan bila kita meminumnya secara berlebihan,” katanya.
Pernyataan itu menegaskan bahwa tuak aren tetap perlu dinikmati dengan bijak, meski berasal dari bahan alami.
Fakta Tentang Tuak Aren: Fermentasi Alami dari Nira
Tuak aren merupakan minuman tradisional beralkohol khas Tapanuli, Sumatera Utara. Bahan utamanya adalah nira, getah pohon palem yang pada awalnya bersifat non-alkohol.
Nira kemudian difermentasi menggunakan kulit kayu raru (Vatica pauciflora Blume) selama dua hari. Proses ini menghasilkan tuak dengan kadar alkohol sekitar 3,8%. Selain itu, tuak aren juga mengandung protein antara 0,05 hingga 2%.
Beberapa penelitian menyebutkan bahwa baik nira maupun tuak memiliki potensi sebagai sumber enzim fibrinolitik dari mikroorganisme alami yang terkandung di dalamnya (Johnson et al., 2015).
Sensasi Lengkap: Tuak, Musik, dan Hidangan Tradisional
Aren Garden Café buka setiap hari. Pengunjung tidak hanya menikmati tuak aren, tetapi juga ditemani berbagai hidangan sederhana seperti lele, tahu, tempe, dan menu pendamping lainnya. Suasana makin hidup dengan iringan musik karaoke yang bebas dinikmati siapa saja.
Aren Garden Café bukan hanya tempat minum. Ia adalah ruang kecil yang menjaga tradisi Batak tetap berdenyut—menghadirkan tuak aren yang murni, suasana adem dari pohon-pohon aren, serta kehangatan perbincangan antarpenikmat tuak. Di sini, setiap tegukan adalah cerita, setiap aroma adalah kenangan.
(Maha Rajagukguk)





