Jakarta, AuraIndonesia | Swasembada Papan 2045, akan menjadi airmata kebahagian bagi rakyat penghuni RTLH. Bayangkan sebuah keluarga kecil yang harus terjaga setiap kali hujan deras turun. Atap mereka bocor, dindingnya rapuh, dan yang paling memilukan, rumah itu bukan milik mereka sendiri.
Kenyataan pahit ini bukan sekadar cerita fiksi. Ini adalah potret nyata dari sekitar 20 juta saudara kita di Indonesia yang hari ini terpaksa bertahan hidup di rumah tidak layak huni (RTLH).
Jeritan tersembunyi dari jutaan rakyat kecil inilah yang memicu sebuah gerakan besar di Menara 2 BTN pada Kamis (21/5/2026). Sektor perumahan kini bukan lagi sekadar urusan membangun atap dan dinding bata, melainkan sebuah misi kemanusiaan dan pilar strategis untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi nasional hingga 8 persen.
Perjuangan Antargenerasi Demi Rumah Rakyat
Swasembada papan kini menjadi impian besar yang sedang diperjuangkan. Dalam acara peluncuran dan bedah buku Indonesia Menuju Swasembada Papan 2045 karya Fahri Hamzah, suasana haru sekaligus penuh optimisme menyelimuti ruangan. Acara ini mempertemukan para pembuat kebijakan dan pelaku industri yang memiliki satu tujuan sama: memberikan hunian layak bagi rakyat miskin.
Hadir dalam diskusi krusial tersebut Ketua Satgas Perumahan Hashim Djojohadikusumo, Penulis Buku sekaligus Komisaris PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) Fahri Hamzah, serta Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu bersama jajaran direksi BTN lainnya.
Hashim Djojohadikusumo sangat mengapresiasi buku ini karena visi di dalamnya sejalan dengan fondasi para pendahulu bangsa. Gagasan ini meneruskan perjuangan Margono Djojohadikusumo dalam memperluas akses hunian murah, serta Soemitro Djojohadikusumo yang memosisikan industri perumahan dalam kerangka ekonomi nasional.
“Ini adalah kerja panjang yang melibatkan antargenerasi. Satgas Perumahan kini tengah mengorkestrasi strategi besar untuk mempercepat program 3 juta rumah. Fokus kami jelas, memastikan program ini tepat sasaran bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR),” kata Hashim dengan penuh komitmen.
Angka yang Menampar Rasa Kemanusiaan
Meskipun baru satu setengah tahun mengemban amanah sebagai Wakil Menteri Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (Wamen PKP), Fahri Hamzah langsung bergerak cepat menelurkan karya literatur. Buku ini lahir dari buah pikiran Soemitro Djojohadikusumo yang menginspirasinya untuk mengambil sikap secara ideologis dalam memotret krisis hunian dan ketimpangan kepemilikan rumah (backlog) di tanah air.
Fahri mengungkapkan sebuah fakta yang menggetarkan hati. Saat ini, angka ketimpangan kepemilikan rumah (backlog) berkisar antara 10 hingga 12 juta unit. Lebih menyedihkan lagi, ada sekitar 20 juta warga yang belum menikmati rumah layak.
“Bahkan, sekitar 6 juta orang di antaranya tinggal di rumah yang tidak layak, dan rumah itu pun bukan milik mereka sendiri,” ucap Fahri dengan nada dalam.
Bagi Fahri, program 3 juta rumah adalah bagian dari strategi transformasi bangsa yang skalanya sangat besar dan kolosal. Program ini bertujuan merombak masa depan bangsa, sehingga tidak boleh dianggap sebagai proyek properti biasa.
“Swasembada papan adalah harga mati jika kita ingin membangun fondasi sosial dan ekonomi masyarakat yang kuat ke depan,” ujar Fahri dengan tegas. Cita-cita besarnya adalah melihat seluruh rakyat Indonesia terbebas dari masalah hunian pada tahun 2045.
BTN Hadirkan Solusi Cicilan Murah Agar Tidak Mencekik Rakyat
Sebagai motor utama pembiayaan perumahan nasional, PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) memastikan kesiapannya mengawal cetak biru (roadmap) menuju target besar tersebut. BTN tidak ingin ada satu pun warga miskin yang tertinggal dalam rencana besar ini.
Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu menegaskan bahwa pihaknya terus merumuskan strategi inklusif agar pembiayaan hunian bisa diakses oleh seluruh lapisan masyarakat, baik yang bekerja di sektor formal maupun informal. Sinergi antara Satgas Perumahan, kementerian, dan BTN akan menjadi kunci utama untuk mewujudkan Swasembada Papan 2045.
Salah satu solusi nyata dan realistis yang ditawarkan BTN adalah penyediaan pembiayaan murah dengan tenor jangka panjang, mulai dari 20, 30, hingga 40 tahun. Skema ini sangat penting mengingat harga hunian yang terus melambung tinggi, sehingga batas kemampuan bayar masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) bisa tetap terjaga.
Nixon menambahkan, buku karya Fahri Hamzah ini menyentuh tiga isu utama, yaitu tata ruang, demokratisasi lahan, dan instrumen pembiayaan. Tantangan terbesar saat ini adalah menggali sumber pendanaan jangka panjang yang benar-benar murah.
“Definisi murah ini bisa macam-macam. Namun bagi kami (BTN), indikator utamanya adalah keterjangkauan (affordable). Di situlah tantangannya, bagaimana merumuskan instrumen pembiayaan yang pas agar cicilan rumah tidak mencekik kantong rakyat,” pungkas Nixon. (NZ)




