Medan, AuraIndonesia | Puluhan BH berderet tertiup angin di depan markas Polrestabes Medan, Kamis (16/7/2026). Bukan jemuran, pakaian dalam perempuan itu sengaja dipasang sebagai simbol protes tajam dari keluarga korban dugaan pencurian.
Aksi nekat Protes ini dilakukan untuk menarik perhatian Kapolrestabes Medan, Kombes Pol Jean Calvijn Simanjuntak. Mereka menuntut komitmen dan keadilan atas perkara yang dinilai jalan di tempat.
Kekecewaan mendalam tampak jelas dari raut wajah para demonstran. Koordinator aksi, Beni Setiawan, mengungkapkan rasa frustrasinya atas janji-janji yang dianggap palsu oleh oknum penyidik dan Kasat Intelkam berinisial ‘SS’.
Nasib tragis menimpa keluarga mereka. Awalnya, mereka adalah korban pencurian. Namun, setelah membantu polisi menangkap terduga pelaku sesuai arahan, mereka justru berubah status menjadi tersangka dan sempat masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO).
Tuntutan keadilan terus menggema di depan kantor polisi tersebut. Mereka melaporkan adanya dugaan tindak pidana penipuan yang sudah berjalan enam bulan tanpa kejelasan status hukum.
Ancaman ekstrem sempat dilontarkan di akhir aksi. Peserta demonstrasi menyatakan akan kembali dengan massa lebih besar. Bahkan, mereka mengancam akan datang dengan kondisi telanjang jika janji penyelesaian perkara tetap tidak ditepati.
Wakasat Reskrim Polrestabes Medan, Kompol Budiman Simanjuntak, sempat menemui massa. Ia berjanji akan meneruskan aspirasi tersebut kepada pimpinan, meski hingga kini belum ada realisasi nyata atas tuntutan keluarga korban.
Kepastian hukum adalah satu-satunya harapan mereka. Lewat aksi doa bersama di akhir demonstrasi, mereka memohon agar Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo dan Kapolda Sumut Irjen Pol Whisnu Hermawan memberikan perhatian atas kasus ini. (Tim)




