BerandaDaerahDugaan Perundungan di WAG: Saat Niat Baik Memberi Makan Kucing Liar Berujung...

Dugaan Perundungan di WAG: Saat Niat Baik Memberi Makan Kucing Liar Berujung Sudutan Tetangga

Medan, AuraIndonesia | Dugaan Perundungan di WAG saat niat baik memberi makan kucing liar berujung sudutan tetangga. Hati seorang perempuan yang kita sebut saja namanya Bunga ini sebenarnya sederhana. Di tengah hiruk-pikuk kehidupan, nuraninya tergerak setiap kali melihat perut-perut mungil yang kelaparan. Langkah kakinya sering kali terhenti hanya untuk menyodorkan segenggam makanan bagi kucing-kucing liar yang melintas di sekitar kompleks perumahannya.

Namun, siapa yang menyangka, uluran tangan yang penuh empati itu justru berbalik menjadi kepedihan. Tanpa ia sadari dan tanpa ada dirinya di dalamnya, nama Bunga justru dijadikan bahan gunjingan panas di sebuah WhatsApp Group (WAG) warga setempat.

Dugaan perundungan digital ini bermula saat sejumlah warga—termasuk para pria beristri—mulai mengaitkan aksi kebaikan Bunga dengan keresahan lingkungan. Lingkungan yang kotor akibat kotoran kucing hingga barang-barang warga yang rusak terkena cakaran, mendadak ditimpakan ke pundak Bunga. Hanya karena ia pernah memberi makan, perempuan ini langsung dicap seolah sebagai pemilik dan penanggung jawab atas keberadaan seluruh binatang liar tersebut. Ruang percakapan yang harusnya menjadi wadah silaturahmi, berubah menjadi panggung penghakiman sosial yang menyudutkan satu nama.

Maha Rajagukguk, Wakil Ketua DPD Parsadaan Pomparan Raja Lontung (PPRL), menyampaikan keprihatinannya atas peristiwa tersebut. Ia menegaskan bahwa aksi kepedulian terhadap hewan melintas tidak bisa dijadikan alasan untuk melayangkan tuduhan sesat.

“Tidak ada aturan yang melarang seseorang memberikan makan kepada kucing yang lapar. Jangan karena seseorang memberi makan kucing kemudian seluruh persoalan yang berkaitan dengan kucing dibebankan kepadanya,” tegas Maha pada keterangannya, Kamis (10/9/2026).

Penyelesaian masalah lingkungan sejatimya membutuhkan kepala dingin dan gotong royong, bukan sindiran di balik layar ponsel. Keberadaan kucing liar adalah tanggung jawab bersama seluruh penghuni kawasan perumahan. Menimbun opini negatif atau membangun stigma buruk terhadap seorang warga jelas melukai rasa keadilan dan mengoyak keharmonisan hidup bertetangga.

BACA JUGA  Rekonstruksi Cepat! Bobby Nasution Genjot Tanggul Sungai Badiri Demi Keselamatan Warga

Luka keprihatinan ini semakin mendalam saat masa lalu ikut diseret ke permukaan. Salah satu warga rupanya pernah mengalami nasib serupa akibat insiden tak disengaja di jalan kompleks pada suatu malam. Kala itu, kendaraan yang dibawanya melindas gagang sekop dan kabel sambungan listrik milik warga yang tergeletak di jalan saat acara karaoke. Meski penerangan sangat minim dan Warga telah mengganti seluruh kerugian barang yang rusak, peristiwa usang itu terus diungkit dan dijadikan bahan untuk menyudutkan dirinya kembali.

Pola sindiran yang diulang-ulang di ruang publik seperti ini dinilai sangat berbahaya bagi kehormatan seseorang. Maha mengingatkan agar warga tidak memelihara prasangka buruk dan menyebarkan tuduhan tanpa dasar yang sah.

“Kalau ada persoalan antarwarga, selesaikan secara baik-baik. Jangan masalah yang sudah selesai kemudian terus dibawa ke ruang publik dan dijadikan bahan untuk menyudutkan seseorang,” ujar Maha.

Perilaku perundungan di ruang digital tidak bisa dibiarkan begitu saja karena dampak psikologis dan pencemaran nama baik yang ditimbulkannya nyata. Group percakapan warga seharusnya difungsikan untuk mempererat silaturahmi, menyampaikan informasi positif, dan merumuskan solusi atas masalah bersama secara proporsional.

Maha imbau para anggota keluarga untuk saling menjaga etika di dunia maya. Perbedaan pendapat atau ketidaknyamanan hidup bertetangga tetap harus diselesaikan lewat musyawarah langsung secara tatap muka.

“Himbauan kepada para istri dimana saja berada ini jadi masukan agar mengikuti perkembangan percakapan para suami di WAG. Jangan mudah menghakimi. Apalagi jika menyangkut kehormatan dan nama baik seseorang. Kita harus berhati-hati karena sebuah pembicaraan di grup bisa berkembang menjadi opini yang merugikan seseorang,” pungkas Maha. (Tim)

 

Google News

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini