Medan, AuraIndonesia | Policy brief BEM SI Sumut menjadi bukti nyata bahwa semangat Sumpah Pemuda belum padam di tengah berbagai persoalan bangsa.
Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) Sumatera Utara menggelar diskusi penting untuk menakar arah gerak pemuda. Acara ini berlangsung bertepatan dengan peringatan Sumpah Pemuda serta dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran.
Diskusi bertema “Menakar Arah Gerak Pemuda Indonesia Dalam Memperingati Sumpah Pemuda” itu dihelat di Oomi Lezato, Jalan Abdul Halim, Padang Bulan Selayang I, Medan.
Koordinator Wilayah Sumatera Bagian Utara BEM SI, Ahmad Arya Attalah, memimpin jalannya diskusi bersama Koordinator Media BEM SI, Angga Al Maaris Harahap, dan Koordinator Daerah Sumut, Sakhti Pati Alam.
Ahmad menjelaskan bahwa pertemuan ini bukan sekadar ajang seremonial memperingati masa lalu. Para mahasiswa berkumpul untuk bertukar pikiran mengenai arah masa depan pemuda Indonesia.
Hasil pemikiran kritis dari diskusi tersebut tidak akan berhenti di ruang rapat. BEM SI Sumut berkomitmen merumuskannya menjadi dokumen policy brief resmi.
Dokumen berisi gagasan dan masukan konstruktif itu rencananya akan diserahkan langsung kepada DPRD Sumatera Utara.
Bagi Ahmad, momentum Sumpah Pemuda harus dimaknai kembali secara mendalam. Ia mengingatkan kembali bagaimana para pemuda pada tahun 1928 berhasil menyatukan ide demi masa depan bangsa.
Semangat persatuan gagasan itulah yang ingin terus dijaga oleh generasi muda saat ini untuk membawa Indonesia ke arah yang lebih baik.
Selain berdiskusi, Ahmad juga menanggapi aksi turun ke jalan yang dilakukan oleh mahasiswa. Ia menilai aksi tersebut sebagai hal yang sangat wajar.
Mahasiswa memegang peran ganda sebagai kaum intelektual sekaligus agent of change. Tanggung jawab besar melekat di pundak mereka untuk menyuarakan ketimpangan yang masih dirasakan masyarakat.
Keberanian mahasiswa untuk turun ke jalan dan mengangkat isu-isu sosial menunjukkan bahwa kepedulian terhadap negeri ini masih hidup.
Ahmad berharap pemuda di Sumatera Utara tidak hanya berhenti pada kecaman atau kritik kosong. Mereka harus aktif mengambil peran nyata dalam pembangunan daerah.
Penyampaian aspirasi wajib dilakukan secara normatif, santun, dan bertanggung jawab demi membangun Sumatera Utara yang lebih adil.
Sikap kritis bukan berarti menolak segala bentuk kebijakan pemerintah. Kebijakan yang membawa kebaikan harus didukung sepenuhnya, sementara proyek yang janggal wajib dikritisi secara tajam.
BEM SI Sumut mengajak seluruh mahasiswa untuk terus bersuara, tetap kritis, dan memposisikan diri sebagai mitra strategis pemerintah dalam mengawal keadilan. (MR)




