Medan, AuraIndonesia | Ruangan itu mendadak hening. Dua puluh delapan tahun lalu, mereka adalah anak-anak muda yang bertaruh nyawa di jalanan, berteriak lantang demi sebuah kata: Reformasi. Kini, di Medan pada Jumat (26/6/2026), guratan usia jelas terlihat di wajah para mantan aktivis tersebut. Namun, api di mata mereka belum padam.
Aktivis Lintas 98 Sumatera Utara bersama 98 Resolution Network berkumpul bukan untuk bernostalgia kosong. Mereka membawa secercah harapan baru, sebuah keharuan mendalam bahwa cita-cita yang mereka perjuangkan dulu—yang sempat terasa semu—kini mulai menemukan jalannya kembali.
Melalui sebuah pernyataan politik emosional bertajuk “Dari Merdeka Bersuara Menuju Pemerataan Kesejahteraan Bersama Pemerintahan Prabowo-Gibran”, para pejuang masa lalu ini menyatakan sikap. Mereka melihat arah baru di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Perjuangan 28 Tahun yang Belum Selesai
Edison Marbun, Koordinator Kegiatan, berdiri dengan suara bariton yang bergetar. Ia mengajak seluruh pelaku sejarah Reformasi 1998 untuk merenung dan mengevaluasi perjalanan bangsa selama hampir tiga dekade ini. Ada rasa haru sekaligus sesal yang mendalam dalam kalimat-kalimatnya.
“Selama 28 tahun reformasi masih terdapat kekurangan,” ujar Edison dengan nada getir. Bagi Edison dan kawan-kawannya, kebebasan berbicara yang dinikmati masyarakat hari ini barulah setengah jalan. Demokrasi politik telah terbuka, namun perut rakyat banyak yang masih lapar.
Edison mengingatkan bahwa jika demokrasi politik tidak berjalan bersamaan dengan demokratisasi ekonomi, maka yang terjadi hanyalah demokrasi semu. Menyakitkan bagi mereka melihat kekayaan alam Indonesia justru dikuasai oleh segelintir kelompok, sementara rakyat kecil tetap kesulitan. Indonesia, tegasnya, sangat membutuhkan sosiol-demokrasi—sebuah sistem yang tidak hanya menjamin kebebasan bersuara, tetapi juga memastikan perut rakyat kenyang dan sejahtera secara merata.
Bukan Cek Kosong untuk Pemerintah
Di tengah situasi politik nasional yang penuh kritik dari mahasiswa dan masyarakat, kelompok Lintas 98 Sumut memilih berdiri sebagai pengawal yang bijak. Juru Bicara 98 Resolution Network, Turman Simanjuntak, menegaskan bahwa mereka tidak ingin terjebak dalam adu domba atau polarisasi politik.
“Kami mencoba menyikapi dinamika politik yang terjadi belakangan ini. Kami tidak masuk dalam ruang perdebatan, tetapi ingin menyampaikan bahwa banyak cita-cita Reformasi 1998 justru mulai diimplementasikan pada pemerintahan Presiden Prabowo,” kata Turman hangat. Mereka melihat ada ketegasan nyata dalam pemberantasan korupsi, penataan sumber daya alam, dan upaya membagikan kesejahteraan kepada rakyat kecil.
Namun, dukungan ini bukanlah sebuah kepasrahan. Air mata dan darah kawan-kawan mereka yang gugur pada tahun 1998 terlalu mahal untuk ditukar dengan kepatuhan buta. Turman dengan tegas menyatakan bahwa fungsi kontrol dan kritik akan tetap berjalan. Mereka siap menjadi benteng pertama yang mengkritik jika pemerintah melenceng dari jalur pro-rakyat.
Delapan Sikap Tegas Demi Rakyat
Komitmen emosional tersebut kemudian dituangkan ke dalam delapan sikap politik yang nyata dan faktual:
- Mendukung penuh pemerintah menyita aset para koruptor untuk dipakai demi kepentingan rakyat banyak.
- Mendukung pemberantasan korupsi di sektor pengelolaan sumber daya alam dan menghentikan kebocoran uang negara.
- Mendukung penertiban kawasan hutan serta pembagian lahan secara jujur dan transparan kepada masyarakat.
- Mengawal semangat antikorupsi dan efisiensi birokrasi agar tidak disalahgunakan oleh aparat nakal.
- Mendukung anggaran APBN untuk program kerakyatan seperti Program Makan Bergizi Gratis (MBG), dengan catatan tata kelolanya harus terus dievaluasi.
- Menegaskan anggaran pendidikan wajib terus naik sesuai perintah undang-undang dan tidak boleh dipotong demi program makanan gratis.
- Mengajak semua anak bangsa memberikan kritik yang membangun tanpa berniat merusak atau menghambat program strategis negara.
- Mendorong persatuan nasional agar Indonesia kuat menghadapi tantangan dunia luar, dengan syarat pemerintah tetap jujur dan bertanggung jawab.
Harapan Baru dari 24 Tokoh
Edison Marbun kembali menegaskan dengan penuh penekanan bahwa dukungan ini bukanlah “cek kosong”. Gerakan mereka akan terus mengawasi jalannya kekuasaan agar bebas dari penyakit lama bernama korupsi dan kesewenang-wenangan.
Deklarasi yang penuh dengan harapan dan ketegasan ini resmi ditandatangani oleh 24 tokoh Lintas 98 Sumatera Utara. Mereka adalah Turman Simanjuntak, Ikhyar Harahap, Edison Marbun, Thomas Tarigan, Amru Siregar, Herianto, Nugroho Wicaksono, Victor A. Sinaga, Maruli Samosir, Jonni Silitonga, Charles Butar Butar, Ferdinan Tumanggor, Eky Raub, Indra, Hanafi, Indra Mada Ritonga, Yudhi Ramadhan, Batara Panjaitan, Mara Sakti Siregar, Suria Marlinta Sembiring, Maruli Wils Daryanto, Bendry Sagala, Usman Damanik, dan Indra Novindra.
Melalui pertemuan di Kota Medan ini, para mantan aktivis tersebut menitipkan harapan besar di pundak pemerintahan Prabowo-Gibran. Mereka ingin melihat sebuah akhir yang indah dari perjuangan masa muda mereka: sebuah Indonesia yang bersih dari korupsi, berdaulat secara ekonomi, dan yang paling penting, rakyatnya sejahtera secara merata. (Tim)




