Deli Serdang, AuraIndonesia | FKWJ (Forum Komunikasi Warga Jawa) Nusantara 22 tahun dirayakan dengan suasana penuh kehangatan dan kebersamaan di Café FKWJ Tahtan, Desa Patumbak, Kecamatan Patumbak, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, Selasa, 28 April 2026. Perayaan ini tidak hanya menandai perjalanan organisasi, tetapi juga menjadi momen emosional bagi seluruh warga yang hadir.
FKWJ Nusantara 22 tahun sejatinya jatuh pada 24 April 2026. Namun, peringatan dilaksanakan beberapa hari kemudian agar dapat dirayakan bersama secara lebih khidmat. Momen ini sekaligus menjadi perayaan ulang tahun ke-53 Dewan Penasehat DPP FKWJ Nusantara, Kanjeng Pangeran Haryo Wironegoro, suami dari Ketua Umum DPP FKWJ Nusantara, Gusti Kanjeng Ratu Mangkubumi.
Suasana pagi itu terasa berbeda. Warga yang hadir datang dengan wajah penuh harap dan rasa bangga. Deretan pengurus dan tokoh organisasi tampak duduk berdampingan, memperlihatkan eratnya ikatan kekeluargaan yang telah terjalin selama bertahun-tahun.
Hadir dalam kegiatan tersebut Ketua Umum DPW FKWJ Sumatera Utara, Jamin Sumitro, Sekretaris Jenderal Supriadi, serta seluruh jajaran pengurus DPW FKWJ Sumut. Turut hadir Ketua DPD FKWJ Kota Medan Nurmahadi Dermawa SH, Ketua DPD FKWJ Langkat Suprianto, Penasehat DPW FKWJ Sumut Abmrin, Emse Tadi Sugiardi, serta warga FKWJ lainnya.

Acara dimulai dengan doa bersama yang dipimpin oleh Wakil Ketua DPW FKWJ Sumut, Drs. Tugiwan Suwandi. Doa tersebut menjadi pembuka yang membawa suasana hening, sekaligus harapan agar organisasi tetap diberi kekuatan dan keberkahan dalam perjalanan ke depan.
Dalam sambutannya, Ketua Umum DPW FKWJ Sumatera Utara, Jamin Sumitro, menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh pengurus yang hadir. Ia menegaskan bahwa kemajuan organisasi tidak terlepas dari peran aktif semua pihak.
“Tanpa kebersamaan dan dedikasi, FKWJ tidak akan berkembang seperti sekarang,” ungkapnya dengan nada penuh keyakinan.
Jamin Sumitro juga mengajak seluruh jajaran pengurus untuk terus bergotong royong membangun FKWJ Sumatera Utara agar semakin kuat dan bermanfaat bagi masyarakat.
Puncak acara ditandai dengan pemotongan tumpeng yang dilakukan sebagai simbol rasa syukur kepada Allah Subhana Wataala. Momen ini menjadi titik paling emosional, ketika seluruh yang hadir larut dalam rasa syukur atas perjalanan panjang organisasi.
Pemotongan tumpeng bukan sekadar tradisi. Ia menjadi lambang harapan, kebersamaan, dan doa agar FKWJ Nusantara tetap eksis sebagai wadah silaturahmi dan pemersatu warga Jawa.
Di tengah suasana yang hangat, semangat “Guyub Rukun Kangge Selawase” terasa hidup. Kalimat itu bukan hanya slogan, melainkan tekad bersama yang terus dijaga dan diwariskan dari waktu ke waktu.
Perayaan ini meninggalkan kesan mendalam. Bukan hanya tentang usia organisasi, tetapi tentang nilai kebersamaan, rasa memiliki, dan harapan untuk masa depan yang lebih kuat. (SY)




