Medan, AuraIndonesia | Paskah MPKW Sumut-Aceh 2026 menjadi momen penuh haru ketika 1.200 peserta memadati Aula Raja Inal Siregar, Kantor Gubernur Sumatera Utara, Sabtu (11/4/2026). Sejak langkah pertama memasuki gedung di Jalan Pangeran Diponegoro No. 30, suasana khidmat langsung terasa melalui lantunan lagu pujian yang menggema lembut, membawa setiap hati larut dalam perayaan iman.
Paskah MPKW Sumut-Aceh 2026 mengusung tema “Kristus Bangkit, Generasi Muda Bersinar” berdasarkan Efesus 5:14. Tema ini tidak hanya menjadi slogan, tetapi menjadi pesan kuat yang hidup di tengah para pelajar dan guru yang hadir. Subtema yang diangkat menegaskan panggilan bagi generasi muda untuk hidup dalam kebenaran dan menjadi terang bagi dunia.
Paskah MPKW Sumut-Aceh 2026 diikuti oleh peserta dari berbagai latar belakang. Dari total 1.200 peserta, sebanyak 800 merupakan siswa dan 100 guru. Selebihnya terdiri dari tokoh Kristen, unsur sinode, tokoh masyarakat, serta para undangan. Kehadiran mereka membentuk satu kesatuan yang memperlihatkan dukungan nyata terhadap pembinaan generasi muda melalui pendidikan Kristen.
Di tengah suasana yang khidmat, Ketua Panitia, Dr. Adolfina Elisabeth Koamesakh, M.Th., M.Hum., menyampaikan rasa terima kasih kepada Pemerintah Provinsi Sumatera Utara. Dukungan yang diberikan, termasuk penggunaan Aula Raja Inal Siregar, menjadi faktor penting terselenggaranya acara ini secara tertib dan meriah.
Momen paling menyentuh hadir saat khotbah disampaikan oleh Bambang Yonan dari GBI Rumah Persembahan Medan. Dengan suara tenang namun penuh penekanan, ia mengajak peserta memahami makna pengampunan dan rasa syukur atas pengorbanan Tuhan Yesus di kayu salib. Pesan itu terasa dalam, mengingatkan setiap orang untuk hidup dalam kasih karunia dan belajar mengampuni.
Paskah MPKW Sumut-Aceh 2026 juga membawa pesan nyata tentang kepedulian lingkungan. Inge Halim dari MPK Pusat menyampaikan gerakan “Satu Anak Satu Tumbler”. Pesan ini sederhana, namun kuat—mengajak siswa untuk hidup sehat, mengurangi sampah plastik, dan lebih peduli terhadap lingkungan sekitar.
Makna gerakan ini semakin dalam ketika dijelaskan oleh RE Nainggolan dan Dr. Adolfina Elisabeth Koamesakh. Tumbler yang dibagikan kepada siswa bukan sekadar bingkisan Paskah. Tumbler itu menjadi simbol perubahan gaya hidup—ajakan untuk meninggalkan plastik sekali pakai, menjaga kebersihan, dan membangun kebiasaan baik sejak dini.
Acara ini juga dihadiri oleh Penjabat Sekretaris Daerah Provinsi Sumatera Utara, Sulaiman Harahap, S.H., M.SP., CGCAE. Sementara itu, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sumatera Utara, Rudi Hutabarat, memberikan sambutan secara virtual. Kehadiran para tokoh ini memperkuat dukungan lintas sektor terhadap pembangunan karakter generasi muda.
Paskah MPKW Sumut-Aceh 2026 bukan sekadar perayaan seremonial. Di balik kemeriahan, tersimpan komitmen besar untuk membentuk generasi yang unggul, adaptif, dan berkarakter Kristiani. MPKW terus mendorong transformasi sekolah Kristen agar mampu melahirkan pemimpin masa depan yang berdampak positif bagi masyarakat.
Semangat pelayanan ini ditegaskan melalui landasan “Fructus in Altum, Semakin Berbuah” berdasarkan Yohanes 15:1-8. Nilai compassion, collaboration, dan creativity menjadi fondasi dalam membangun generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga peduli dan mampu bekerja sama.
Pada akhirnya, Paskah MPKW Sumut-Aceh 2026 meninggalkan kesan mendalam. Bukan hanya tentang kebangkitan Kristus, tetapi tentang kebangkitan harapan. Harapan akan generasi muda yang hidup dalam kebenaran, membawa terang, dan memberi dampak nyata bagi dunia. (Hery Buha Manalu)




